Ahmad Dhani Bilang Anaknya Tak Suka Musik Korea, Tetapi Faktanya Bikin Geleng-Geleng Kepala!

Dhani Ahmad Prasetyo atau yang lebih dikenal sebagai Ahmad Dhani terkenal tak hanya karena karyanya, tetapi juga karena kontroversi yang dibuatnya.

Dalam akun media sosialnya, Ahmad Dhani selalu mengeluarkan 'cuitan' blak-blakan yang sering memicu amarah masyarakat.
Kali ini, Ahmad Dhani 'bertingkah' di akun Facebook pribadinya, Ahmad Dhani Prasetyo.

Ia secara terang-terangan 'menyerang' musik Korea Pop atau K-Pop dan mengatakan musik itu tidak artistik karena hanya dibalut makeup penuh.

Tak sampai di situ saja, Ahmad Dhani bahkan mengatakan bahwa anak-anaknya, Al, El, Dul, tidak pernah suka musik Korea.

Ia mengungkapkan bahwa sejak kecil telah mengajari anak-anaknya musik-musik bermutu dan memiliki unsur seni yang tinggi.

Status Ahmad Dhani
Status Ahmad Dhani (Facebook.com/AhmadDhaniPrastOfficial)

Jika disimak lebih dalam, Ahmad Dhani sebenarnya ingin 'menyentil; politik Indonesia dan mengingatkan bangsa Indonesia agar tak terjajah bangsa asing.

Namun, kalimat yang dibuatnya terkesan menjelekkan musik negara lain sehingga publik menjadi geram, terlebih untuk para penggemar Korea Pop (K-Pop).Dikutip dari Tribun Seleb, Senin (18/7/2016), Anak pertama Ahmad Dhani, Ahmad Al Ghazali, mengaku mengidolakan penyanyi asal Korea Selatan, Hyuna, dalam wawancaranya saat acara Viral Fest Asia 2016.

Al bahkan mengaku sempat menyukai girl group Korea Selatan, Girls' Generation (SNSD).

Menurut pantauan Tim TribunWow.com, hampir seluruh komentar di unggaha itu mendapat respons geram dari netizen.

Namun, banyak juga netizen yang tetap mencoba tenang bahkan membrondongi kolom komentar Ahmad Dhani dengan lirik-lirik lagu Korea.

Akun Titi Yeoja Kookie Bultaourune menuliskan lagu boy group BTS dan menyuruh Ahmad Dhani mendengarkan lagunya.

Ia mengatakan, "Fireeee……… Ssak da bultaewora bow wow wow.. Coba dengerin lagu fire dehh om siapa tau ntar suka.."

Akun Atika Nurmala menuliskan lirik lagu Blackpink berjudul Boombayah, "OPPA yayayayayayaya yayaya.. OPPA yayaya yayaya yaya~~~ Yayaya Boombayayayaaah"

Saking gemasnya, sejumlah netizen juga menyentil anak Ahmad Dhani yang diketahui menyukai musik Korea.

"AL bilang suka Hyuna sama SNSD, Sapia suka Sehun. Emg Om pikir Hyuna, SNSD sama Sehun dari Bekasi?" tulis Annisa Kim.

Julia Perez Sebut 'Undangan dari Tuhan', Sang Adik Coba Menjelaskan Maknanya

penyanyi dangdut Julia Perez alias Jupe, Nia Anggia, mencoba menjelaskan soal pernyataan kakaknya yang menyebut sudah mendapat undangan dari Tuhan.

Kata-kata yang Jupe ucapkan dalam sebuah tayangan televisi sempat membuat heboh netizen.
"Mungkin undangan dari Allah itu siapa tahu banyak maknanya. Mungkin dia mau diajak lagi ke Mekkah, ke rumah Tuhan siapa tahu, amin," ucap Nia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, Kamis (23/3/2017).

Mungkin juga, lanjutnya, omongan itu hanya merupakan wujud perasaan ikhlas dan optimistis sang kakak melawan penyakitnya.

Untuk diketahui, sudah hampir dua bulan Jupe menjalani perawatan di rumah sakit karena kanker serviks yang ia derita.

"Jadi kita ambil positifnya aja dia ngomong gitu," ucap Nia.

Dalam sebuah tayangan di salah satu stasiun televisi, Jupe melontarkan pernyataan yang menyinggung soal undangan dari Tuhan sambil berbaring di rancang rumah sakit.

"Saya memang sudah mendapat undangan dari Allah, tapi kan tanggalnya belum ditaruh. Selagi saya masih ada embusan napas dari Allah, artinya tidak ada yang tidak mungkin," papar Jupe.

"Kalau udah enggak napas itu bahaya. Tapi selagi kaki bengkak, saya masih bisa berjuang. Tapi kalau udah enggak ada napas, baru itu hati-hati kan," lanjut Jupe.

November 2014 lalu, Jupe membeberkan ke publik bahwa ia terkena kanker serviks.

Tiga bulan kemudian setelah berobat ke Singapura, Jupe sempat dinyatakan sembuh dari kanker.

Lalu, setahun belakangan personel Trio Cecepy ini mengungkapkan kanker serviks yang ia derita sudah memasuki stadium akhir.

Ahok akan Rekrut Banyak Dokter untuk Program Emas

Calon petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ingin memastikan seluruh warga ibu kota mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.

Ahok mengaku akan meluncurkan Program Emas, yang mirip dengan Millenium Development Goals. Ia menjelaskan, program ini akan mengawasi kesehatan warga, mulai dari janin hingga lansia.
Ahok menargetkan, nantinya satu dokter dapat menangani lima ribu orang di kawasan padat penduduk.

"Kita ingin orang Jakarta dari hamil sampai lansia diurusi. Makanya satu dokter, lima ribu orang urusin, khusus daerah padat ya. Kita akan rekrut banyak dokter," kata Ahok di Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (23/3/2017).

Ahok menambahkan, saat ini pihaknya telah memulai prototipe program emas tersebut melalui layanan ketuk pintu layani dengan hati. Setiap program yang ia terapkan selalu dievaluasi.

"Nah ini kan uji coba. Selama tahun lalu, terutama tahun ini lah kita akan evaluasi. Nah, saya juga lihat kesulitan di lapangan itu apa," jelasnya.

Ahok menjelaskan, saat ini Pemprov DKI Jakarta telah memberikan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma. Namun, dia tidak memungkiri warga masih mengeluarkan dana untuk datang ke rumah sakit.

"Misal kita mulai temukan, dia mau survei dulu apa cari orang sakit dulu? Sakit sudah enggak bayar, tapi datang ke rumah sakit kan masih bayar. Ke depan ini pencegahan, preventif, promotif. Kalau itu bisa dilakukan, biaya juga hemat dan produktivitas naik," papar Ahok.

Aduh! Sehari, Julia Perez Disuntik Pereda Nyeri Lima Kali

Adik penyanyi dangdut dan pembawa acara Julia Perez alias Jupe, Nia Anggia, mengungkapkan bahwa saat ini sang kakak mendapatkan suntikan pereda nyeri lima kali dalam sehari.

"Dikasih pereda nyeri, setiap hari bisa empat lima kali," kata dia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, Kamis (23/3/2017) sore.
"Karena memang nyeri banget," ujar Nia, sesuai menjenguk sang kakak.

Nia mengatakan, dokter sudah tak punya pilihan lain selain rutin memberikan obat untuk menghilangkan rasa sakit kepada Jupe.

Sebab, mantan istri pemain sepak bola Gaston Castano ini sering merasakan nyeri yang luar biasa.

Adik Julia Perez, Nia , di RSCM, Jakarta Pusat, Kamis (23/3/2017) sore.

Adik Julia Perez, Nia Anggia, di RSCM, Jakarta Pusat, Kamis (23/3/2017) sore. (KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENG)

"Ya enggak ada pilihan lain, karena memang itu obat satu-satunya buat dia sekarang."

"Yang lain enggak mempan lagi," kata Nia.

"Rasa sakit kan ada tingkatannya."

"Mungkin rasa sakit Mbak Jupe ada pada level paling atas."

"Jadinya dibutuhkanlah obat tersebut," katanya menambahkan.Rasa sakit itu, kata Nia, selalu datang tiba-tiba dan tak menentu.

Kadang tiap tiga atau satu jam sekali, bahkan bisa saja setiap 15 menit sekali.

"Jadi dokter anestesinya itu kadang sibuk bolak balik."

"Jadi abis dia keluar (ruanan lalu) dipanggil, dia keluar, dipanggil lagi, seperti itu," ucapnya.

Adapun sebelumnya Jupe sudah dua kali menjalani operasi saraf, yakni pada kaki dan perutnya.

Tahun ini pun tindakan operasi bakal dilakukan lagi karena rasa sakit terus menyerang Jupe.

Operasi tersebut bertujuan menghambat rasa sakit yang dirasakan Jupe sekaligus mencegah Jupe terlalu sering mengonsumsi obat.

Sebab, konsumsi obat pereda nyeri terus menerus bisa berdampak buruk untuk kesehatannya.

Dalam waktu dekat, Jupe akan kembali masuk ke ruang operasi.

Sebelumnya Jupe sudah menjalani dua kali operasi saraf untuk meredakan rasa nyeri akibat kanker serviks yang ia derita.

"Dia rencana mau ada operasi lagi untuk blok saraf."

"Dia setiap hari merasakan sakit yang luar biasa," ujar Nia.

Adik Julia Perez: Tidak Ada Lagi Obat yang Mempan

Sudah tak ada lagi obat yang mempan untuk penyanyi dangdut dan pembawa acara Julia Perez alias Jupe selain obat pereda nyeri.

Hal itu diungkapkan oleh adik Jupe, Nia Anggia, dalam wawancara di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, Kamis (23/3/2017).
"Ya enggak ada pilihan lain. Karena memang itu obat satu-satunya buat dia sekarang. Yang lain enggak mempan lagi," katanya.

Pasalnya, rasa nyeri yang dirasakan sang kakak akhir-akhir ini semakin meningkat. Bahkan, menurut dia, bisa dikatakan rasa sakit itu sudah mencapai tingkat paling atas.

"Jadinya dibutuhkanlah obat tersebut. Sakitnya itu tidak menentu. Kadang kadang dia dateng tiga jam, satu jam, atau 15 menit kemudian datang," ujar Nia.

Kondisi Jupe itu membuat dokter spesialis anestesi mau tak mau bolak-balik ke kamar rawat inap kakaknya.

"Jadi abis dia keluar dipanggil, dia keluar, dipanggil lagi, seperti itu. Dikasih pereda nyeri setiap hari bisa empat lima kali karena memang nyeri banget," kata Nia.

Sebagai informasi, sebelumnya Jupe sudah dua kali menjalani operasi saraf, yakni pada kaki dan perutnya. Tahun ini pun tindakan operasi bakal dilakukan lagi karena rasa sakit terus menyerang Jupe.

Operasi tersebut bertujuan menghambat rasa sakit yang dirasakan Jupe sekaligus mencegah Jupe terlalu sering mengonsumsi obat.

Sebab, konsumsi obat pereda nyeri terus menerus bisa berdampak buruk untuk kesehatannya.

Untuk Apa Menculik Anak-anak? Ini Pengakuan Pelaku yang Beroperasi di Cianjur

CIANJUR -- H bin Muhidin (30), pelaku penculik tiga anak di Kampung Kertajadi, Desa Kertahadi, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur mengaku hanya akan menjadikan anak-anak itu sebagai pemulung.

Hal itu dilakukan karena saat ini dia sedang mengurus rongsokan di Sukabumi. Anak-anak yang dia culik itu akan diperalat untuk mencari barang-barang rongsok.
"Buat kerja di rongsokan saja, bukan buat dijual organ tubuhnya," ujar H di hadapan wartawan di Mapolres Cianjur, Kamis (23/3/2017).

Penculikan bermula karena H memang berniat menculik.
Kesempatan itu datang saat tiga anak bernama Rudiyanto (10), Dadan (10), dan Hendrik bin Ason (6) berkunjung ke rumah orangtua WW (30) istiri H di Kertajadi.

"Ketiganya saya bujuk untuk ikut mayor (makan siang) di Pantai. Kami ke pantai berjalan kaki karena jaraknya tidak terlalu jauh," ujar H.

Sesampainya di Pantai, merekab pun bersantap siang. Namun, selesai bersantap bersama ketiganya bukan pulang.

Ibu Rudiyanto, Popon (40) pada hari yang sama, pada 12 Maret 2017 langsung melaporkan anaknya yang hilang ke polisi."Saya dan istri bawa kabur mereka naik angkutan umum. Di Sindangbarang ketangkap karena ada yang mengenali ketiga bocah itu," ujar H seraya menyebut baru pertama kali menculik.

Pasangan suami istri itu kini ditahan di ruang tahanan Mapolres Cianjur dan dijerat pasal 83 Jo. Pasal 76F Undang-undnag RI nomor 35/2014 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 23/2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun.

Pelaku Pindah-pindah Tempat

Satuan Reserse Kriminal Polres Cianjur memamerkan pasangan suami istri pelaku penculikan tiga orang anak di Kampung Kertajadi, RT09/03 Desa Kertajadi Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur, di Mapolres Cianjur, Kamis (23/3/2017).

Keduanya masing-masing berinisial H (35) bin Muhidin, warga Kampung Tegalboled Desa Sukapura Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur, dan istrinya, WW (30) binti Engkur warga Kampung Cidahon Desa Jatimulya Kecamatan Pamengpeuk Kabupaten Garut. Polisi menangkap mereka tidak lama setelah melakukan aksi penculikan di Cidaun, 12 Maret 2017.

"Tanggal 12 Maret ada laporan dari seorang bernama Popon (40) warga Desa Kertajadi bahwa anaknya Rudiyanto (10) hilang. Dia sempat mencarinya ke rumah pelaku (Hendrik) tapi tidak ditemukan," ujar Kasatreskrim Polres Cianjur, AKP Benny Cahyadi di Mapolres Cianjur.

Pasangan Suami Istri H (35) dan WW (30), pelaku penculikan tiga anak di Cidaun, Cianjur, dipamerkan kepada wartawan di Mapolres Cianjur, Kamis (23/3/2017).

Pasangan Suami Istri H (35) dan WW (30), pelaku penculikan tiga anak di Cidaun, Cianjur, dipamerkan kepada wartawan di Mapolres Cianjur, Kamis (23/3/2017). (Tribun Jabar/Dian Nugraha)

Bukan hanya Rudiyanto, Hendrik dan Istrinya juga membawa kabur Dadan (10) bin Killi dan Hendrik (10) bin Ason (6).

Selang satu hari dari aksi penculikan itu, yakni pada tanggal 13 Maret, ketiga korban ditemukan di Sindangbarang bersama kedua pelaku. Jarak Cidaun ke Sindangbarang sekitar 30 kilometer.

"Pelaku memang berpindah-pindah tempat sehingga pelacakan cukup sulit. Terakhir pelaku ada di Sindang Barang setelah sebelumnya kami berkoordinasi dengan warga sekitar," ujar Benny seraya membenarkan kedua korban sempat akan dihakimi massa.

Keduanya kini ditahan di ruang tahanan Mapolres Cianjur dan dijerat pasal 83 Jo. Pasal 76F Undang-undnag RI nomor 35/2014 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 23/2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun.

Tampak suami istri itu sangat kusam. Namun, Hendrik sang suami bertato di dadanya.

Pria yang sehari-hari bekerja serabutan itu mengaku akan membawa ketiga bocah asal Kertajadi itu ke Sukabumi.(tribunjabar/ram)

Fakta Mengejutkan Hasil Riset Soal Tafsir, Apakah Ahmad Dhani Singgung Rais Syuriah PBNU?

Pemusik handal asal Surabaya, Ahmad Dhani kembali mengeluarkan unek-uneknya di media sosial miliknya.

Di Facebook Ahmad Dhani mengungkapkan pemikirannya tentang perbedaan tafsir ulama Nahdlatul Ulama dan menyinggung mengenai terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Ahmad Dhani mengungkapkan bahwa perbedaan tafsir para ulama NU adalah hal yang biasa.

"Ulama NU beda Tafsir itu biasa, Allah adalah HAKIM...Non Muslim mengHINA Tafsir Ulama itulah PENISTAAN. #ADP," tulis Dhani dalam unggahan Facebooknya.

Tak hanya sampai disitu, Ahmad Dhani masih meluncurkan unek-uneknya lagi di unggahan selanjutnya.

Unggahan kali ini, Dhani mengungkapkan bahwa ia sudah melakukan riset sebelumnya.

"TAK KENAL MAKA TAK SUBYEKTIF

By AhmadDhani

Saya sudah melakukan RISET.

Lebih dari 90% NU atau Muhammadiyah yang ikut GERBONG JOKOWI , meng Anugerahkan dan menyematkan "pembelaan" nya untuk Ahok.

Ada benar nya Pepatah "Tak Kenal Maka Tak Ada URUSAN".

"Tak Kenal Maka Tak Subyektif".

Tak Subyektif berarti OBYEKTIF.

NU yang tidak ada urusan nya dengan DUNIA, ya lain lagi pendapatnya tentang AL Maidah 51.

Perbedaan TAFSIR memang hal biasa.

Tapi untuk Kasus Penistaan Agama Bukanlah masalah TAFSIR.

Kyai NU boleh berbeda masalah TAFSIR sampe kapanpun tidak ada masalah.

Masalah utama adalah, Gubernur Non Muslim menistakan Tafsir MUI.

Terlepas akurat atau tidaknya Tafsir MUI, ini adalah Penistaan terhadap Ulama.

Terlepas dari akurat tidak nya Tafsir Ulama. cuma ALLAH SWT yang bisa menjadi HAKIM. bukan Ahok AB (asal B*c*t).

Selamat merenung."

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada konfirmasi lebih lanjut dari Ahmad Dhani mengenai maksud dari unggahannya tersebut.

Baca: Serangkaian Kejadian Terkait Sidang Ahok, Titip Pesan untuk Sumarsono hingga Saksi Ditolak Hakim!

Namun diketahui sebelumnya, pada sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama, Selasa (21/3/2017) di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Ahok yang menjadi terdakwa mengajukan saksi ahli seorang ulama, yakni Ahmad Ishomuddin.

Ahmad Ishomuddin yang merupakan Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta dan Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2015-2020 mengungkapkan dirinya memiliki pendapat yang berbeda dengan MUI terkait kasus dugaan penodaan agama yang menimpa Ahok.

Sebelumnya, MUI menyatakan Ahok telah menodai agama Islam dalam kasus itu.

Ahmad datang ke sidang tersebut sebagai pribadi, tidak mewakili organisasi atau lembaga yang dia kecimpungi.

"Jadi saya datang ke tempat ini sebagai pribadi, tidak atas nama MUI ataupun PBNU," ujar Ahmad kepada Kompas.com usai persidangan yang digelar di Gedung Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (21/3/2017).

Ahmad mengungkapkan wajar saja jika ia berbeda pandangan dengan MUI.

"Adapun apabila pendapat saya berbeda saya kira wajar-wajar saja, karena dalam Islam, agama yang saya pahami sangat toleran dengan perbedaan-perbedaan pendapat.... Jadi perbedaan itu bukan berarti saya tidak taat kepada KH Ma'ruf Amin," kata Ahmad.

Diketahui pula bahwa Ma'ruf Amin adalah Ra'is 'Aam PBNU (2015-2010) sekaligus Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (2015-2020).

"Saya kira perbedaan pendapat ini penting untuk menjadi masukan bagi hakim kira-kira mana argumentasi ilmiah agama yang lebih kuat dalam penyelsaian kasus ini," ucap Ahmad.

"Ini kan persengketaan. Ini diselesaikan di hadapan hakim karena ini negara konstitusi, negara berdasarkan UU, maka tidak patut warga negara menjadi hakim atas kasus ini berdasarkan nafsunya masing-masing," tambahnya.

Ahmad juga meminta kepada masyarakat supaya tenang dalam memandang kasus Ahok.

Ia mengimbau masyarakat menyerahkan semua proses kasus itu kepada majelis hakim.

"Kalau bersalah harus dihukum, kalau tidak bersalah ya wajib dibebaskan, itulah keadilan. Oleh karena itu perlu diberi penjelasan dari berbagai pihak," pungkas Ahmad.

Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)

Populer