GNPF-MUI Bertemu Jokowi, Buni Yani Berharap Kriminalisasi Dirinya Segera Dihentikan

Seperti gayung bersambut. Ketika saya menulis mengenai maksud terselubung kunjungan GNPF-MUI yang ingin mencoba menyinggung masalah kriminalisasi, atau dalam bahasa lebih moderatnya penegakan hukum tidak berkeadilan, Buni Yani mencuitkan harapan kasusnya juga akan dihentikan.

Juru bicara GNPF MUI yang juga adalah pengacara Rizieq Shihab, Kapitra Ampera, kepada media sudah menyampaikan bahwa GNPF-MUI lega dengan komitmen Presiden Joko Widodo yang akan menjamin penegakan hukum yang berkeadilan. Saya sendiri berharap kelegaan ini dibuktikan dengan segera pulangnya Rizieq Shihab dari pelariannya.
Kembali ke Buni Yani yang sepertinya ingin ikut juga dimasukkan dalam perjuangan GNPF-MUI membebaskan para tokoh mereka yang dikriminalisasi. Buni Yani berharap bahwa pertemuan ini akan menjadi awal pembebasan dirinya.
Buni Yani‏ @BuniYani
Semoga pertemuan Presiden dan ulama dari GNPF MUI menandai dimulainya rekonsiliasi dan semua kiriminalisasi termasuk kasus saya dihentikan.
Harapan Buni Yani ini tentu sajja tidak ada salahnya. Selagi masih belum divonis dan selagi masih bisa mulut bicara dan tangan masih bisa mengetik status di media sosial, Buni Yani tentu bisa menyuarakan harapannya. Sama seperti mulut dan tangannya yang memprovokasi pidato Ahok yang membuat suasana menjadi panas dan tidak terkendali.

Karena Ahok yang masuk dalam penjara karena provokasinya, Buni Yani harusnya diberikan hukuman yang lebih berat. Perbuatan Buni Yani ini sudah jelas menjadi pemicu kericuhan dan kegaduhan yang terjadi. Seruan kebencian dan melakukan provokasi dengan memotong video dan memberi caption penuh provokasi.

Tentu saja Buni Yani tidak menganggap itu bukan provokasi dan menurutnya hanya ajakan untuk berdiskusi. Benarkah?? Kalau masalah kebenaran hal tersebut, maka semuanya harus dibuktikan dalam persidangan. Karena dia sudah masuk dalam proses persidangan.

Bantahan apapun tidak berguna karena fakta persidangan dan alat bukti adalah penentu kebenaran hukumnya. Sama seperti kasus SMS ancaman Hary Tanoe kepada Jaksa Yulianto, mau di-ILCkan seribu episode pun tidak ada guna kalau fakta persidangan membuktikan kesalahan tersebut.

Lalu mengapa Buni Yani berharap dia juga akan ikut diperjuangkan kasusnya oleh GNPF-MUI??

Berikut adalah faktanya:

1. Buni Yani Adalah Pahlawan.Islam Medsos.

Sekedar mengingatkan. Buni Yani ini adalah pahlawan Islam Media Sosial yang mendapatkan pengakuan dari FPI. Penghargaan ini tentu saja membuat Buni Yani punya tempat khusus bagi FPI. Karena itu, Buni Yani berharap, sebagai pahlawan, FPI mengingat jasa-jasanya.

Jadi, dengan begitu, Buni Yani berharap dia juga akan ikut dibebaskan dari kasus yang dinilainya juga adalah sebuah bentuk kriminalisasi. Tetapi apakah FPI akan memperjuangkan pahlawannya ini?? Kalau mengenai kepastian itu sepertinya belum tentu. Karena belum ada ucapan dukungan dari Rizieq kepadanya, beda cerita dengan Amien Rais yang sudah pasti akan dibela.

Bagaimana mau dibela, wong ongkos menjumpai Rizieq di Arab Saudi saja dia tidak punya. Malah sekarang jadi jualan baju dan mug serta berceramah mengenai kepahlawanannya di dunia medsos.

2. Buni Yani Adalah Tokoh Muslim Koperasi Syariah 212.

Buni Yani ini adalah tokoh muslim menurut penilaian Koperasi 212. Sempat ikut memberikan tanda tangan saat pembukaan gerai mereka. Tokoh muslim dengan label 212 apakah akan dilindungi?? Apakah GNPF-MUI menganggap keberadaannya??

Saya pikir hal tersebut juga belum pasti. Lah yang mendukungnya saja saat bersidang tidak sampai seratus dari target seribu orang. Padahal kalau bicara 212 itu bicara jumlah fantastis 7 juta orang. Tidak sampai seratus bagaimana ceritanya mau diperjuangkan GNPF-MUI??

3. Buni Yani sudah “berdaster”;

Nah ini juga jadi penting. Buni Yani sekarang sudah sangat firm bergabung dengan kaum berdaster. Meski belum pakai daster seperti para pimpinan FPI yang besar-besar badannya, tetapi buni Yani sudah mulai sering berpakaian gamis. Dalam persidangan juga begitu.

Bahkan dalam fotonya di akun twitter, Buni Yani sudah terlihat seperti seprang penceramah handal. Mudah-mudahan tidak berlanjut dengan pakai sorban. Hehehe.. Apakah ini juga akan membuat GNPF-MUI melirik Bunu Yani?? Sayangnya, saya pikir tidak bakal.

Membela Buni Yani bukanlah sesuatu yang bisa menghasilkan apa-apa oleh GNPF-MUI. Nasi sebungkus saja tidak mereka dapatkan kalau menjual nama Buni Yani. Tidak akan ada pengusaha atau siapapun mengongkosi pergerakan mereka kalau membawa-bawa nama Buni Yani. Beda jika membawa nama Rizieq dan bahkan Amien Rais. Dana segar bisa langsung dikucurkan.

Kasihan memang nasib Buni Yani. Digelari pahlawan, tokoh muslim, dan sudah bergamis permanen tetapi belum pasti juga dapat perhatian GNPF-MUI. GNPFF-MUI lebih memilih membela tersangka kasus pornografi yang adalah junjungannya daripada tersangka memprovokasi yang saat ini mereka nikmati kemenangannya.

Buni Yani sudah seperti ampas yang tidak berharga bagi mereka ini. Ditinggal sendiri berjuang dan terancam menikmati hidupnya bertahun-tahun di penjara. Jadi, kalau ada yang mau coba-coba berbuat seperti Buni Yani, berpikirlah berkali-kali. Kalau dianggap bisa dapat kaplingan surga dan kenikmatan dunia, kalau tidak dianggap akan bernasib seperti Buni Yani. Poor Buni Yani.

Salam Ngarep.





Loading...
loading...
loading...
Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)

Populer