Pesan dari Seorang Napi Bernama Ahok untuk Sahabatnya

Djarot Saiful Hidayat telah dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta pada Kamis (15/6/2017) kemarin, menggantikan Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok), yang kini mendekam di balik jeruji besi, setelah divonis dua tahun penjara dalam kasus penistaan agama.

Usai dilantik Djarot sempat mengungkapkan ada satu pesan Ahok, yakni soal menjaga kinerjanya agar tingkat kepuasan masyarakat di atas 70 persen, seperti saat keduanya masih bersama-sama memimpin Jakarta.
Menanggapi hal tersebut, penulis Herry Tjahjono menilai, Ahok telah mempersembahkan semuanya untuk rakyat, teristimewa bagi sahabatnya, Djarot.

" Ahok, sudah tak ingin apapun lagi untuk dirinya sendiri. Tidak pula kredit atau apresiasi, tidak pula puja-puji. Semuanya ingin dipersembahkannya bagi warga, masyarakat, dan...Djarot - sahabat terbaik yang disayanginya," kata Herry.

Berikut tulisan lengkap Herry, dikutip dari akun Facebook-nya, Jumat (16/6/2017).


PESAN SEORANG NAPI

By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.

"Sebelum pelantikan ini, saya bertemu beliau dan mengobrol. Saya dipesankan segera tuntaskan (program kerja Pemprov DKI), dan standar kami yang paling utama adalah tingkat kepuasan masyarakat. Pak Ahok bilang, tolong tingkatkan persentase kepuasan masyarakat yang sudah 70 persen di zaman kita," kata Djarot saat ditemui di Istana Negara, Jakarta.

Sahabat - sekadar untuk melawan lupa : Ahok itu masuk penjara dan menjadi napi karena perjuangannya menegakkan keadilan, kesetaraan, demokrasi, keberagaman, dan toleransi. Ahok ditahan karena politisasi agama, politik gerombolan yang semuanya dilakukan penuh ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.


Tapi dia hanya diam, menerima dan mengampuni. Dalam imannya - menerima dan mengampuni itu tidak hanya berhenti pada mulut. Sebab iman tanpa perbuatan adalah mati. Maka dia buktikan dengan perbuatan. Dia batalkan bandingnya. Dia mundur dengan baik sebagai gubernur. Dia kembalikan uang operasional milyaran rupiah yang menjadi haknya.

Dan puncaknya adalah pesan mulia kepada Djarot yang dilantik hari ini untuk menggantikannya. Kenapa mulia ? Lihatlah apa yang dipesankannya : tolong tingkatkan kepuasan masyarakat yang selama ini sudah 70%. Ya, agar warga Jakarta yang dicintainya (termasuk mereka yang membencinya) semakin merasakan kesejahteraan dan kebahagiaan melalui tingkat kepuasan yang tinggi.

Tentu jika peningkatan kepuasan itu tercapai, semua bukan lagi menjadi kredit dan penghargaan untuknya. Tapi untuk Djarot, mantan wakilnya dan penerusnya. Nampaknya secara diam-diam Ahok ingin memberikan semuanya kini pada Djarot. Dulu ketika keduanya masih aktif, relatif semua kredit tertuju padanya - dan Djarot ikhlas mendukung di belakang. Kini seolah Ahok ingin membalasnya - dengan memacu Djarot untuk berjuang di sisa waktu beberapa bulan ini. Lalu kelak jika berhasil - terlepas Djarot menginginkannya atau tidak - biarlah semua untuk sahabatnya itu.

Ahok, sudah tak ingin apapun lagi untuk dirinya sendiri. Tidak pula kredit atau apresiasi, tidak pula puja-puji. Semuanya ingin dipersembahkannya bagi warga, masyarakat, dan...Djarot - sahabat terbaik yang disayanginya.

Bayangkan, betapa pelajaran kehidupan yang luarbiasa mulia ini justru kita dapatkan dari seorang napi bernama Ahok. Bukan dari para wakil rakyat terhormat yang suka bolos sidang serta tidur dalam sidang - dan kini mengobok-obok KPK. Bukan dari tokoh-tokoh terkenal yang hanya bisa lari dari kenyataan dan tanggungjawab. Bukan dari semuanya.

Tapi sekali lagi - dari seorang napi.
Maka jika air mata Djarot mengalir dalam hati di balik senyuman ketika pelantikan - itu karena dia hanya bisa terharu mengetahui jiwa mulia yang tersirat di balik pesan sahabatnya.

Maka jika air mata Ahok mengalir dalam hati di balik senyuman ketika menyampaikan pesan itu kepada Djarot - itu karena dia paham - tak ada lagi kesempatan untuk membalas budi baik sahabatnya. Kini tiba saatnya sang sahabat setia itu yang menuai kredit dan penghormatan.

Ahok sendiri hanya ingin menyaksikan semua hasil perjuangan Djarot kelak dari bilik selnya, yang dingin dan sepi. Lalu saat itu, dia hanya akan berbisik lirih : 'Terima kasih Tuhan, kau layakkan sahabatku itu menerima penghormatan yang memang menjadi haknya.'
Sahabat, manusia mulia yang akan berbisik untuk sahabatnya hanyalah seorang napi - yang kita panggil






Loading...
loading...
loading...
Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)

Populer