Ketakutan Ahok Terbukti, Sejak Divonis 2 Tahun, Banyak Orang Tua Murid Yang Hendak Mencairkan KJP

Ahok adalah orang yang sangat ingin pendidikan anak-anak di Jakarta benar-benar terjamin. KJP yang merupakan program untuk menjamin pendidikan anak-anak di Jakarta beberapa kali kedapatan diselewengkan oleh orang tua murid. Dana yang seharusnya digunakan untuk keperluan pendidikan anak, oleh orang tuanya digunakan untuk kepeluan lain. Ahok akhirnya memutuskan bahwa KJP tidak dapat dicairkan dalam bentuk uang tunai. Ahok tidak ingin uang dari KJP dislewengkan oleh orang tua murid.

Bukan tanpa alasan ketika Ahok mengecam program KJP Plus Anies yang bisa dicairkan dalam bentuk uang tunai. Ahok khawatir pendidikan anak-anak terancam karena dana KJP yang seharusnya digunakan untuk keperluan sekolah anak, namun bis dicairkan dalam bentuk tunai untuk kebutuhan yang lain. Ketakutan Ahok terbukti. Semenjak divonis 2 tahun dan itu artinya Ahok tidak lagi menjadi gubernur DKI, para orang tua murid mulai curang. Tidak sedikit orang tua murid yang ingin mencairkan dana KJP.
Toko peralatan sekolah di sekitar gedung Pasar Jaya Cibubur, Jakarta Timur, itu tak berbeda dari kios-kios pada umumnya. Di waktu-waktu tertentu, toko itu seolah menjadi magnet bagi para siswa Sekolah Menengah Atas. Bukan karena menjual barang tertentu, tapi karena memiliki fasilitas istimewa menerima pencairan dana Kartu Jakarta Pintar (KJP).

Seorang pegawai toko yang merujuk dirinya dengan panggilan Abang, secara terbuka melayani pemilik KJP yang ingin mencairkan saldonya dalam bentuk uang tunai.

Ia menyebut setiap siswa yang ingin mencairkan dana KJP di tokonya dikenakan ‘tarif ‘10 persen.

Artinya, ia akan mendapat keuntungan Rp50 ribu setiap ada pelajar yang ingin mencairkan Rp500 ribu. Abang menjelaskan, tokonya siap mencairkan dana KJP berapa pun jumlahnya.

“Kayak kemarin, ada anak SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) ngambil lima juta,” tuturnya, Jumat (7/7).

Tanpa tedeng aling-aling ia pun menawarkan jika ada yang ingin menjadi calo mencairkan dana secara kolektif.

“Bisa. Nanti Abang bilang potongannya 15 persen,” lanjutnya.

Sejumlah toko yang menerima layanan pengguna KJP. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)
Jumat sore itu, CNNIndonesia.com juga sempat menyaksikan seorang laki-laki berpostur seperti pelajar SMA menarik tunai Rp200 ribu di toko milik abang. Raut wajah sang pemuda tak menunjukkan rasa sungkan saat ‘menggesek tunai’ KJP miliknya.

Tak lama kemudian, datang sepasang laki-laki dan perempuan yang juga berpostur seperti pelajar SMA. Salah seorang dari mereka pun mencairkan KJP-nya. Entah digunakan untuk apa.

Jaja (56), seorang pedagang kopi dan mie di sekitar Pasar Jaya Cibubur, sempat memendam rasa heran melihat banyak pelajar di toko kecil tersebut.

Dalam kesehariannya, ia melihat berulang kali para pelajar datang tapi kemudian pulang dengan tangan hampa. Tanpa jinjingan atau kantong plastik di tangan mereka.

“Ada yang bilang, ‘lagi nyairin KJP’. Ooh, habis itu saya mengerti,” kata Jaja.


Setelah Ahok Dipenjara

Dengan Ahok yang kini mendekam di tahanan Markas Komando Brimob, Depok, karena dinyatakan bersalah dalam kasus penodaan agama, muncul kecemasan dana KJP akan kembali diselewengkan.



Lisa (22), pedagang tas dan sepatu sekolah di Lubang Buaya Jakarta Timur, mengatakan, ia kerap didatangi orangtua yang ingin mencairkan dana KJP secara tunai.

Dia mengaku fenomena itu terjadi kurang lebih sebulan setelah Ahok lengser dari jabatannya.

“Waktu itu kalau enggak salah pas baru mulai bulan puasa (Ramadan) deh. Itu pertama kali. Berarti, iya, setelah Ahok dipenjara,” kata Lisa saat ditemui di tokonya, Jumat (7/7).

Lisa mengatakan, tidak hanya sekali dua kali diminta para orangtua untuk mencairkan KJP.

“Mereka berani ke sini kan karena ada tulisan ‘menerima KJP. Tapi saya enggak berani. Yang punya toko juga melarang saya,” ujar Lisa yang sudah bekerja selama kurang lebih dua tahun tersebut.

Hal serupa juga dialami seorang kasir toko peralatan sekolah di wilayah Bambu Apus, Jakarta Timur. Berbeda dari toko di Pasar Jaya Cibubur, bukan para pelajar ingin yang mencairkan KJP.

“Enggak pernah anak sekolah yang mau cairin KJP di sini, Mas. Selalu ibu-ibu. Enggak pernah bawa anaknya juga,” katanya.

“Kemarin ada lho, ibu-ibu. Coba Mas ke sininya kemarin jam segini, pasti bertemu,” tuturnya.

Meski begitu, dia tidak menerima permintaan tersebut. Dia tahu bahwa KJP tidak bisa dicairkan dalam bentuk tunai. Pemilik toko pun sudah mengamanatkan dirinya agar menolak pencairan.

“Takut, Mas. Lagian, KJP kan cuma untuk beli peralatan sekolah doang,” lanjutnya.

Rupanya, bisik-bisik permintaan untuk mencairkan KJP juga tak hanya terdengar di lapak para penjual peralatan sekolah, tapi juga penjual sembilan bahan pokok.

Calo-Calo KJP

Seorang pemilik toko di Bambu Apus, Jakarta Timur, menyebut pada Mei lalu setiap harinya ia selalu mendengar permintaan untuk mencairkan KJP. Namun, pria yang namanya tak mau disebutkan itu mengaku selalu menampik.

Pria yang sudah lima tahun membuka toko di Bambu Apus ini juga mengaku pernah didatangi dua orang yang menawarkan diri menjadi calo pencairan KJP. Akan tetapi, pemilik toko sembako tidak tertarik dengan tawaran tersebut.

“Kalau dapat satu orang, dia minta duit Rp50 ribu. Saya enggak mau. Kan KJP enggak boleh dicairin,” ujarnya.

Saya menjadi maklum mengapa 58% mereka tidak memilih Ahok. Berdasarkan survey, rata-rata orang yang memilih Ahok adalah kelas menengah ke bawah. Mereka hidup dengan kondisi pas-pasan. Bagi mereka, pendidikan anak tidak begitu penting asalkan mereka punya uang. Upaya pemprov DKI untuk menjamin pendidikan masyarakat menengah ke bawah nampaknya kurang mendapat dukungan orang tua murid. Jika mereka mendukung, mereka tidak akan berani menyentuh dana KJP. Mereka akan menjaga amanat Pemprov DKI bahwa KJP tidak boleh dicairkan.

Anies sangat jitu melihat peluang ini. Dengan membuat program KJP Plus yang bisa dicairkan, masyarakat berbondong-bondong memilih Anies. Mereka sangat bernafsu bisa menikmati dana KJP.

Gubernur DKI masih dipegang Djarot, namun ketakutan Ahok sudah terbukti. Sesaat setelah Ahok divonis, banyak orang tua yang tidak takut lagi mencairkan dana KJP. Toko-toko yang bisa mencairkan dana KJP juga mulai bermain. Mereka siap mencairkan dana KJP dengan imbalan 10% dari setiap pencairan. Memang masih ada toko-toko yang tetap mentaani aturan. Namun saya melihat ada kemunduran yang sangat kentara semenjak Ahok lengser.

Saya melihat pengaruh Ahok sangat luar biasa di Jakarta. Kekuatannya mampu membentengi APBD agar tidak dislewengkan. Orang tua tidak ada yang berani mencairkan dana KJP jika gubernurnya masih Ahok. Toko-toko pun tidak berani berkutik apalagi menawarkan pencairan KJP seperti fenomena akhir-akhir ini. Saya menjadi pesimis melihat wajah Jakarta kedepannya.




Loading...
loading...
loading...
Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)

Populer