Penting! Jika Anda Kena Tilang, Pilih Langkah-langkah Berikut Ini

Deli (19), warga Palembang kaget saat membayar denda tilang di Bank BRI atas pelanggaran lalu lintas yang dilakukannya.

Ia mendapati jumlah uang yang harus dibayarkan di bank jauh lebih kecil dibandingkan jika mengikuti sidang dan membayar denda di pengadilan atau kejaksaan.
Menurut Deli, awal mulanya pada bulan Mei ia ditilang Polantas saat berkendara di Jalan Kolonel Atmo Palembang menuju Pasar 16 Ilir.

Tepat di simpang empat Jalan Kolonel Iskandar, ia menerobos lampu merah sehingga distop anggota polisi yang berjaga di pos lantas tak jauh dari lokasi.

Setelah mendapat salam ramah dari polisi, Deli diminta memperlihatkan surat-surat kendaraannya. Namun sayang, ia hanya bisa menunjukkan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), sedangkan Surat Izin Mengemudi (SIM) C disebutnya tertinggal di rumah.

Alhasil, mahasiswi ini ditilang dan mengakui kesalahannya. Ia pun mendapatkan slip tilang warna biru.

"Ditilang dua pasal, tidak bawa SIM sama melanggar lampu merah. Tapi aku tahu aku memang salah," katanya kepada Sripo belum lama ini.

Ia pun dapatkan surat tilang warna biru Sementara, Riyan mengaku pernah juga ditilang karena melanggar lampu lalu lintas dan tidak membawa SIM.

Waktu itu, ia mendapatkan slip merah dan harus mengikuti sidang di Pengadilan Negeri Klas 1/A Palembang. Jumlah denda yang harus dibayarkan mencapai ratusan ribu rupiah.

"Seingat saya waktu itu bayarnya sekitar Rp 120.000, kena dua pasal," ujar Riyan.

Namun Riyan menyadari bisa jadi setiap hakim memiliki pertimbangan tersendiri dalam setiap perkara sidang tilang, hingga tidak semua pelanggar mendapatkan amar putusan denda dengan nominal yang sama.

Hanya saja, terlepas dari itu ia tetap mengeluhkan kenapa pembayaran denda di pengadilan tidak transparan dan cukup repot.

"Petugasnya langsung sebut angka (jumlah yang harus dibayar), tidak ngasih struk atau apalah namanya," ujar Riyan.

Hal yang sama juga terjadi saat pembayaran denda tilang di Kejaksaan Negeri bagi yang tidak sempat ikut sidang di pengadilan.

Pelanggar rata-rata membayar denda tilang di atas Rp 120 ribu. Serupa dengan petugas di pengadilan, petugas kejaksaan pun langsung menyebut nominal yang harus dibayar tanpa ada bukti putusan hakim dan pelanggar pun percaya dan tidak bertanya lagi.

"Kita percaya saja. Tapi kalau mau lebih baik, ya memang harus transparan," kata salah seorang warga yang dimintai pendapatnya.

Bebas Memilih

Untuk diketahui, surat tilang dibedakan menjadi dua jenis, yakni slip merah dan biru.

Menurut Kasatlantas Polresta Palembang, Kompol Yudha Widyatama, antara surat tilang merah dan biru merupakan opsi yang diberikan oleh pihaknya untuk pilihan mana dianggap lebih mempermudah warga membayar denda tilang.

Ia menyebut, masyarakat bebas memilih surat tilang merah atau biru meminta kepada Polisi Lalu Lintas (Polantas) ketika melakukan pelanggaran berkendara.

"Masyarakat bebas memilih mau yang merah atau biru. Karena pilihan itu tujuannya untuk mempermudah warga untuk membayar denda," ujar Yudha, Sabtu (8/7).

Yudha membeberkan, jika mendapatkan slip tilang berwana biru masyarakat harus membayar denda tilang melalui bank sebelum batas waktu sidang kemudian diambil ke Polresta Palembang.

Masyarakat membayar denda maksimal terlebih dahulu dari pelanggaran, jika setelah sidang denda lebih kecil maka deposit uang bisa diambil di bank.

"Kalau yang merah warga membayar denda tilang langsung ke pengadilan sesuai waktu sidang dan keputusan dari hakim," ungkap dia.

Yudha menambahkan, pada intinya tidak ada paksaan dari pihaknya untuk memberikan slip tilang merah atau biru.

Pilihan itu diberikan kepada masyarakat mana yang dinilai lebih mempermudah mereka.

"Jadi intinya tergantung warga mau pilih mana, yang mana bagi mereka lebih mudah prosesnya," kata dia.

Cuma Bayar Rp 50 Ribu

DELI (19), seorang mahasiswa, gembira bukan main saat tahu amar putusan denda atas pelanggaran lalu lintas yang buatnya hanya Rp 50 ribu.

Padahal saat ditilang dengan slip warna biru, ia menyerahkan titipan denda tilang Rp 302.000, sehingga ia mendapat pengembalian sebesar Rp 252.000.

Waktu itu, Deli masih ingat betul kalau ia mendapatkan slip tilang warna biru yang dendanya harus ia bayarkan di bank.

Berbekal informasi yang dimiliknya, Deli menuju ke Bank BRI terdekat (yang telah bekerjasama) dan membayar Rp 302.000 yang disebut teller bank sebagai titipan denda tilang.

Tak berapa lama, petugas teller bank pun memberikan slip bukti pembayaran di bank dan Deli diarahkan ke Poltabes Palembang untuk mengambil barang bukti (STNK) yang disita.

Setibanya, ia diarahkan ke Gedung Lantas (tempat pembuatan SIM), tapi di lantai dua. Setelah bertanya ke petugas jaga ternyata STNK miliknya sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Palembang, alasannya karena batas waktu pengambilan sudah lewat.

"Memang sudah cukup lama dari sejak ditilang awal Mei, baru diurus pertengahan Juni kemarin," katanya.

Alhasil, Deli pun langsung menuju Kantor Kejaksaan Palembang, tak jauh dari Poltabes. Di sini, ia bersyukur STNK-nya ada dan bisa diambil setelah menunjukkan bukti pembayaran dari bank.

Petugas jaga di kejaksaan pun berpesan untuk datang lagi (sekitar satu minggu) untuk mengambil 'Surat keterangan pelanggar lalu lintas

yang berhak mengambil sisa titipan denda tilang di Bank BRI.'

"Waktu itu saya sudah senang sudah dapat STNK saya lagi. Terus saya langsung pulang," ujarnya.

Kegembiraan Deli pun semakin bertambah dan sekaligus kaget saat Minggu depannya, ia datang lagi ke kejaksaan untuk mengambil surat pengantar dimaksud. Ia melihat nominal amar putusan denda

yang harus dibayar sebesar Rp 50.000.

"Jadi waktu itu saya langsung ambil sisa titipan denda tilang Rp 252.000 (dari titipan awal Rp 302.000). Caranya cukup tunjukkan KTP atau SIM," ungkapnya.

Baca Juga: Proses Pengurusan Denda Tilang Lama dan Berbelit

Sementara dari pengakuan petugas bank pun diketahui kalau ada beberapa masyarakat juga yang membayar dan mengambil titipan denda tilang melalui bank dan jumlahnya tidak terlalu besar.

Bahkan ada yang membayar titipan denda paling besar hingga Rp 1 juta, tapi amar putusannya kena Rp 100 ribu, sehingga Rp 900 ribu bisa diambil kembali.

"Tapi syarat pengambilannya memang harus punya rekening dahulu. Jadi kita bisa langsung transfer, tidak bisa dicairkan tunai. Kalau belum ada rekening, diarahkan untuk bikin dahulu," kata petugas Bank BRI di cabang Seberang Ulu.





Loading...
loading...
loading...
Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)

Populer