Ketika Djarot Masih Belum Move On dan Terus Membanggakan Ahok Hingga Saat Ini

Ahok sudah menjalani kehidupan yang tenang di penjara. Ahok sudah menerima nasibnya dengan ikhlas. Namun siapa sangka, orang-orang yang mencintainya masih belum ikhlas dengan nasib Ahok saat ini.

Ahok dengan cahayanya yang terus berpendar menyinari hati orang-orang yang mencintainya mampu membuatnya menjadi sosok yang sulit untuk dilupakan. Nama Ahok masih terus dipenbincangkan dan disebut-sebut. Tak terasa, tiba-tiba nama Ahok terucap dalam sebuah pembicaraan yang sebetulnya tidak ada hubungannya dengan Ahok.
Terucapnya nama Ahok dalam suatu pembicaraan menjadi bukti betapa besar rasa cinta kepada Ahok dari masyarakat. Terucapnya nama Ahok adalah bentuk pelampiasan emosi jiwa akan kerinduannya terhadap sosok Ahok. Dengan menyebut nama Ahok, kerinduan kepada Ahok sedikit terobati.

Sosok yang begitu mencintai Ahok adalah Djarot. Dia menjadi salah satu orang yang sangat terpukul dengan nasib yang menjerat Ahok. Sebagai sahabat, Djarot tahu betul siapa Ahok. Perbedaan agama tidak menghalangi Djarot untuk mengagumi sosok Ahok. Kehebatan Ahok menjadi inspirasi buat Djarot untuk terus bekerja sebaik mungkin untuk Jakarta. Demi menghormati sosok Ahok, Djarot bahkan tidak mau menempati ruang kerja gubernur yang sebelumnya ditempati oleh Ahok.

Saya yakin, sampai saat ini Djarot belum bisa move on dari Ahok. Hatinya masih belum ikhlas melihat Ahok dipenjara. Apalagi, Ahok dipenjara karena dituduh menista agama Islam yang menjadi agama Djarot. Djarot sama sekali tidak merasa agamanya telah dihina oleh Ahok. Djarot justru sedih karena Ahok dipenjarakan oleh saudara-saudara seagamanya.

Sejak resmi menjadi gubernur DKI menggantikan Ahok, tidak ada senyum merekah dan tertawa lepas dari Djarot sebagai simbol kebahagiaan. Djarot hanya senyum tertahan mendapat ucapan selamat dari para koleganya.

Sejak mulai bekerja sendiri memimpin Jakarta, Djarot mulai jarang tertawa. Sosoknya menjadi lebih pendiam dari biasanya dan terlihat murung. Ekspesi jiwa Djarot seperti seorang yang baru saja ditinggal oleh sosok yang berharga dan sangat dicintainya. Orang tersebut akan terus menerus murung dan akan kembali ceria ketika bertemu dengan sosok yang dicintainya atau ada yang membicarakannya.


Djarot sedang bicara soal sucinya tugas seorang guru dalam acara penyerahan penghargaan ke sekolah dengan nilai UNBK tertinggi di Yayasan Bunda Tzu Chi, Jalan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Sabtu (12/8/2017). Menurutnya, saat ini gaji guru di Jakarta sudah cukup tinggi. Djarot mensihati apabila masih merasa kurang, maka jangan jadi guru. Jadi pengusaha saja kalau mau kaya.

Djarot awalnya membahas apresiasi yang diberikan Pemprov terhadap guru agama yang dinilai sudah cukup baik. Djarot menasihati jika ingin kaya materi, jangan jadi guru agama, tapi pengusaha. Namun jika ingin batinnya dan beramal untuk sesama, maka jadilah guru agama. Namun siapa sangka, tiba-tiba Djarot membahas Ahok. Padahal, sepertinya tidak ada hubungannya antara guru agama dengan Ahok. Heheh.

Tapi itulah Djarot. Dia sedang sangat rindu terhadap Ahok. Jasa-jasa dan manfaat seorang guru agama disamakan dengan jasa-jasa Ahok untuk membangun Jakarta. Sikap jujur Ahok yang anti korupsi oleh Djarot disamakan seperti kejujuran guru agama yang selalu menebarkan nilai-nilai kebaikan.

Dalam acara tersebut, Djarot tiba-tiba membahas Ahok. Djarot menyatakan bahwa Ahok merupakan seorang politisi dan membuatnya bangga karena tidak korpusi. Djarot bangga Ahok masuk penjara tapi bukan karena korupsi.
“Politisi kalau mau kaya jangan jadi politisi, jadi pengusaha. Contoh mohon maaf, Pak Ahok itu politisi dan saya bangga Pak Ahok dipenjara bukan karena korupsi, saya bukanya bela, tapi lihat hasilnya,” tutur Djarot.

“Saya ketemu Pak Ahok nggak apa-apa, ini sudah garis Tuhan harus ikhlas tapi saya senang karena Anda mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran itu maka kebenaran itu tidak bisa dibungkam dan sekali waktu kebenaran itu akan menunjukan hasilnya entah berapa tahun,” jelasnya.

Pernyataan Djarot memang benar. Ahok bukan seorang koruptor. Ahok seorang yang jujur dan bersih. Ahok tidak merugikan rakyat. Sebaliknya, Ahok memberikan manfaat untuk rakyat. Bahwa kemudian Ahok lisannya terpeleset dan dianggap menoda agama, ini bagian dari sisi manusiawinya. Bagaimanapun juga dia manusia biasa yang punya potensi keliru. Sampai sekarang terbukti sudah. Tidak ada satu pun data bahwa Ahok korupsi. Ahok bahkan mengembalikan uang operasional gubernur. Proyek yang Ahok galakkan juga menyisakan anggaran yang cukup banyak, contohnya simpang susun semanggi yang menyisakan anggaran hingga 200 milyar.

Normalnya orang ketika dipenjara maka saat itu juga dia menjadi seorang pesakitan. Harga dirinya terjun bebas dan citranya memburuk. Dia menjadi sasaran laknat dari masyarakat. Namun berbeda dengan Ahok, setelah dipenjara, cahayanya justru semakin terang benderang. Orang-orang makin bertambah besar rasa cintanya terhadap Ahok.

Ah…pernyataan Djarot membuat kami pecinta Ahok tiba-tiba merindukan sosoknya dan meramaikan politik tanah air. Tanpanya, politik Indonesia menjadi sepi dan tidak menggairahan lagi….

Silahkan baca artikel saya yang lain di: https://seword.com/author/saefudin/





Loading...
loading...
loading...
Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)

Populer