‘Sapi-Kambing’: Sandi Baru Koruptor Pengganti Apel Malang-Apel Washington

Ada-ada saja cara koruptor menyamarkan aksi mencuri uang negara atau menggadaikan jabatan demi mendapatkan uang berlimpah. Kegarangan KPK seolah tidak membuat mereka jera. Sebaliknya, semakin ganas KPK memberangus korupsi, semakin canggih dan lihai pula taktik para koruptor mencari celah. Sepertinya mereka punya keyakinan bahwa, jika banyak jalan menuju Roma, pastilah banyak pula cara untuk melakukan kejahatan.

Baru-baru ini kita dikejutkan oleh penangkapan seorang panitera Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang diduga menggadaikan jabatannya demi mendapat ‘uang mudah’. Sebenarnya bukan peristiwa penangkapan sang panitera yang membuat kita kaget seperti tersengat arus pendek. Juga bukan karena tindak pidana korupsi yang jadi alasan pencydukannya. Karena korupsi sudah lumrah di negeri ini. Kan prinsipnya begini: kalau bisa korupsi, buat apa harus bersih.
Maka korupsi pun dilakukan secara berjemaah. Edannya lagi karena korupsi semakin marak, ada politisi dan pakar hukum yang menyalahkan KPK. Katanya gara-gara KPK lebih fokus ke OTT korupsi makin merajalela. Logika macam apa coba. Ini namanya, Jaka Sembung bawa golok, nyambungnya di mana bung?

Faktanya OTT yang dilakukan KPK tidak membuat para koruptor kapok, malah tumbuh subur di mana-mana. Mereka menilep uang negara dari pusat sampai ke desa. Apa perlu setelah ditangkap para begal uang negara itu disuruh lari keliling monas dalam keadaan tak berbusana, terus ditonton rame-rame?

Kembali ke peristiwa penangkapan panitera tadi. Ini penegak hukum, figur yang seharusnya jadi garda terdepan dalam perang melawan koruptor. Tapi bukannya ikut menagkap koruptor, sang jaksa malah tergiur menjalankan operasi tangkap ‘sapi-kambing’. Tapi tidak usah kaget, cukup berpura-pura kaget saja. Karena penegak hukum jadi koruptor sudah biasa di negara ini.

Jangankan seorang panitera, hakim konstitusi saja bisa masuk penjara. Bahkan seorang Ketua Mahkamah Konstitusi sekalipun bisa mengenakan rompi oranye. Jangan salah, itu bukan kostum pemain cadangan tim sepak bola Belanda. Itu rompi keramat dari KPK buat para koruptor.

Yang mengejutkan sekaligus menggelikan dari kasus penangkapan panitera Pengadilan Negeri Jakarta Selatan adalah, bahasa sandi yang digunakan. Beliau menggunkan kode sandi ‘sapi-kambing’. Jangan salah sangka lagi. Sang panitera tidak sedang membicarakan hewan qurban. Boro-boro berkurban, mereka malah mengurbankan banyak orang dengan operasi menggunakan kode ‘sapi-kambing’ itu.

Kambing adalah kata sandi untuk uang ratusan juta, sementara sapi adalah kata sandi untuk uang puluhan juta. Canggih kan? Mungkin kita perlu usulkan ke pemerintah agar gambar pahlawan di mata uang kita diganti dengan gambar sapi kambing saja.

Pintar juga jaksa nakal ini melancarkan operasinya. Ya, dia memang pintar. Kalau tidak pintar mana bisa jadi koruptor dengan pola komunikasi mirip agen intelijen seperti ini. Bisa dibayangkan isi percakapan mereka saat hendak melakukan transasksi. Mungkin begini bahasanya: “selamat pagi, kambing dan sapi sudah ditransfer ya, mohon dicek sebelum lari ke kebun singkong tetangga”. Hahahaha… Ditransfer, emangnya kambing dan sapi bisa masuk ATM?

Saking pintarnya, mereka lupa kalau setiap kode sandi memiliki kekurangan. Bicara bahasa sandi dalam urusan korupsi, sebenarnya bukan hal baru. Kita tentu masih ingat sandi Apel Malang dan Apel Washington dalam komunikasi Angelina Sondakh dan rekan koruptornya dalam kasus korupsi Hambalang beberapa tahun silam.

Apel Malang dipakai untuk menyebut mata uang rupiah sementara Apel Washington dipakai untuk menyebut mata uang dolar Amerika. Canggih bukan? Tapi sepandai-pandainya membungkus bangkai, baunya akan tercium juga. Angelina Sondakh, sang primadona Senayan kala itu, kini jadi peri di balik jeruji besi.

Setelah kode sandi Angelina Sondakh terungkap, cukup lama para koruptor absen menggunakan kode-kode. Kecuali baru-baru ini seorang kader PKS berkomunikasi menggunakan Bahasa Arab dalam melancarkan urusan proyek di Maluku.Tapi sang kader membantahnya.

Dan kini muncul sandi baru, sapi-kambing. Rupanya pelaku baru ini pandai memanfaatkan moment. Ini kan jelang idul kurban. Memakai sandi hewan kurban dipikir tepat untuk melancarkan bisnis haramnya. Ini siasat mengecoh radar sadapan KPK. Mungkin sang panitera berpikir bahwa kalaupun komunikasinya disadap, paling KPK akan berpikir dia sedang membicarakan aksi amal menyambut Hari Raya Qurban. Selubung dusta yang sempurna.

Kenapa tidak menggunakan sandi lain semacam mangga golek atau mangga indramayu? Ya tidak lucu lah. Kan belum musim mangga. Lagipula sandi buah sepertinya sudah diendus oleh KPK sejak tragedi Apel Malang dan Apel Washington yang membawa Angie ke penjara. Tapi KPK tak sebodoh yang disangka si bapak panitera karena KPK tidak gegabah dalam melakukan operasi.

Alhasil penyamaran komunikasi itu terungkap juga. Sang panitera rupanya lupa kalau sapi sudah pernah mengantar seorang ketua partai ke balik jeruji besi. Intinya, sandi apa pun yang dipakai, selama itu untuk tujuan jahat, pasti akan terbongkar juga. Jangankan cuma sapi-kambing, seluruh isi Ragunan dijadikan sandi dalam aksi korupsi pun, ujung-ujungnya akan tertangkap juga.

Jadi bagaimana? Masih mau bermain dengan ‘sapi-kambing’?







Loading...
loading...
loading...
Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)

Populer