Muslim Rohingya Pilih Mengungsi ke Indonesia, Begini Perlakuan Malaysia dan Thailand pada Mereka

Irama lagu populer berjudul Baby, yang melambungkan nama Justin Bieber beberapa tahun lalu terdengar nyaring di Hotel Braspasti, Jalan Jamin Ginting, Medan, Senin (4/9/2017). Hotel tersebut merupakan lokasi penampungan Imigrasi Kelas 1 Khusus Medan. 

Penghuni penampungan ini merupakan etnis Rohingya, Myanmar. Mereka, yang berusia muda, terdengar menyanyikan lirik lagu Justin Bieber tersebut. Ada juga yang bermain game di Smartphone sambil mendengarkan musik pakai headset.
Pengungsi yang sudah bertahun-tahun tinggal di Indonesia Muhmad Masun menceritakan, sangat senang bisa tinggal di Indonesia. Sebab, ia bisa hidup damai, tanpa dikejar-kejar tentara.

"Enak tinggal di Indonesia. Saya nyaman di sini. Semua sama di sini. Beda dengan di negara kami. Kami dikejar-kejar. Kalau dapat dibunuh. Dipotong-potong. Bersyukur orang Indonesia, bisa hidup damai dan aman-aman saja," ujarnya di Hotel Braspati, Senin.

Mendengarkan lagu dan bermain game merupaka aktivitas rutin para pengungsi di penampungan. Pasalnya, mereka tak leluasa keluar dari penampungan dan harus mematuhi jam malam.

Pengungsi Rohingya tersebut adalah orang-orang yang melarikan diri dari Myanmar, gara-gara ada konflik. Selain mendengarkan musik, para pengungsi juga menghabiskan waktu dengan bermain sepak takraw. Sedangkan, anak-anak belajar bersama guru-guru yang sudah disediakan PBB.

Pengungsi perempuan, yang sudah berkeluarga, tampak merawat anak. Ada yang menggendong, dan ada yang menyuapi anaknya makan. Di sisi lain, ada pengungsi perempuan, yang membuat aneka makanann gorengan.

Ada juga yang memasak daging kurban, yang baru mereka terima saat perayaan Idul Adha.

Para pengungsi etnis Rohingnya ini adalah penganut agama Islam. Di pengungsian mereka ada musala kecil, yang terbuat dari tenda. Musala ini mereka bangun bersama-sama, dan selalu ramai saat waktu salat tiba.

Tempat tinggal pengungsi bujangan, dan yang sudah berkeluarga terpisah. Pengungsi yang sudah berkeluarga tinggal di kamar tersendiri. Sedangkan, yang masih bujangan, tinggal secara berkelompok.

Saat salat di musala, para pengungsi ini terlihat rapi. Di Penampungan Imigrasi Kelas 1 Khusus Medan menampung 319 orang. Rinciannya 144 orang di penampungan Hotel Braspati, 27 orang di penampungan Belawan, 128 orang di penampungan Hotel Pelangi, dan 20 orang di penampungan Hotel Top Inn.

Para pengungsi ini mendapat bantuan sandang dan pangan dari PBB, yang disalurkan melalui International Organization for Migration (IOM) dan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR).

Para pengungsi mendapat bantuan makanan tiga kali setiap hari. Makanan tersebut terdiri atas nasi, daging ayam/daging sapi dan sayur-sayuran yang dikemas dalam rantang. Selain mendapat bantuan makan, para pengungsi juga mendapat bantuan perlengkapan hidup sehari-hari, seperti perlengkapan mandi.

Saat sakit, pengungsi akan dibawa ke rumah sakit untuk berobat. Adapun rumah sakit yang menjadi tujuan para pengungsi ini adalah Rumah Sakit Siloam, Rumah Sakit Mitra Sejati dan Rumah Sakit Bunda Tamrin.

Seorang warga imigran etnis Rohingya Myanmar, menggendong bayinya yang baru lahir berusia tiga hari, di lokasi penampungan Imigrasi kelas I khusus Medan, Sumatera Utara, Senin (4/9/2017).Sebanyak 144 Imigran etnis Rohingya Myanmar ditempatkan di penampungan tersebut.

Seorang warga imigran etnis Rohingya Myanmar, menggendong bayinya yang baru lahir berusia tiga hari, di lokasi penampungan Imigrasi kelas I khusus Medan, Sumatera Utara, Senin (4/9/2017).Sebanyak 144 Imigran etnis Rohingya Myanmar ditempatkan di penampungan tersebut. (TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI)

Jangan Tutup Mata 

Sekretaris Jenderal Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Mohammad Jafar Hafsah mengingatkan negara-negara yang tergabung ASEAN agar tidak menutup mata terkait kekerasan atas kelompok Rohingya.

"ICMI menyayangkan lemahnya reaksi negara-negara internasional terhadap peristiwa Rohingya. Padahal diperlukan pendekatan signifikan untuk menyelesaikan segera masalah Rohingya," kata Jafar dalam keterangannya, Senin.

Dengan sikap Presiden Joko Widodo dan hadirnya Menteri Luar Negeri RI ke Myanmar, ia berharap Indonesia bisa menjadi inisiator negara ASEAN dalam membantu Rohingya.

"Etnis Rohingya telah mengalami penindasan yang amat panjang dan dilanggarnya hak azasi mereka sebagai sebuah etnik. Mereka ditolak di negara sendiri, tidak diterima beberapa negara tetangga, miskin, dan dipaksa meninggalkan Myanmar dalam beberapa dekade terakhir," ujar Jafar.

Ia pun ingin, negara-negara yang berbatasan dengan Myanmar bersedia menerima pengungsi kelompok Rohingya. Bukan sebaliknya, justru mengusirnya kembali ke Myanmar.

"Ini yang amat disesali. Apa yang terjadi terhadap kelompok Rohingya bisa disebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan," kata Jafar.

Kekerasan mematikan terhadap etnis Rohingya semakin memburuk di negara bagian Rakhine, Myanmar, dalam beberapa hari terakhir. Korban tewas meningkat, karena bentrokan bersenjata antara tentara dan militan Rohingya terus berlanjut.

Kekerasan juga membuat ribuan Muslim Rohingya khawatir dan melarikan diri ke perbatasan Bangladesh.

87 Ribu Pengungsi

Sebanyak 87 ribu pengungsi etnis minoritas Rohingya telah tiba di Banglades sejak kekerasan meletus di Myanmar pada 25 Agustus. Data tersebut diungkapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kemarin.

Ribuan minoritas Rohingya tanpa kewarganegaraan itu telah meninggalkan Myanmar. Mereka memenuhi wilayah perbatasan kedua negar sejak pertempuran terbaru itu meletus.

Kedatangan pengungsi baru itu menambah beban berat bagi kamp-kamp pengungsi Rohingya, yang sudah penuh sesak di Banglades, yang lari dari kekerasan pada Oktober 2016.

Penumpukan persoalan itu menimbulkan kekhawatiran akan krisis kemanusiaan parah, karena para aktivis masih kesulitan untuk menangani derasnya arus pengungsian tersebut.

Berdasar laporan PBB, sebanyak 20 ribu orang telah berkumpul di perbatasan, dan mereka sedang mengantre untuk masuk ke Banglades.

Dhaka meningkatkan kontrol di perbatasan menyusul kekerasan terbaru di negara bagian Rakhine, Myanmar. Seorang penjaga perbatasan Banglades mengatakan, dengan begitu banyak orang yang putus asa terus mengalir dari Rakhine, telah menggugah kemanusiaan mereka untuk menerimanya.

"Jumlah kali ini jauh kebih besar daripada yang sebelumnya," kata penjaga tersebut, yang meminta namnya dirahasiakan, sambil membandingkan dengan pengungsi usai kekerasan pada Oktober 2016.

"Jika terus berlanjut, kami bakal menghadapi masalah serius, tapi tidak mungkin menghentikan arus orang-orang ini karena mereka terus mengalir."

Banyak pendatang baru kekurangan tempat berlindung dari hujan di wilayah perbatasan Banglades dan Myanmar. Ratusan tempat penampungan darurat baru telah bermunculan di luar kamp-kamp yang ada, dalam beberapa hari ini.

"Sudah turun hujan sejak minggu lalu. Kami harus menjaga agar anak-anak agar tidak sakit," kata Amena Begum, ibu lima anak yang baru saja tiba di Rakhine.

Rakhine telah menjadi daerah paling berbahaya, karena dilanda kekerasan sejak tahun 2012, saat kerusuhan pertama meletus. Sejumlah orang terbunuh dan puluhan ribu orang mengungsi.

Namun bentrokan bersenjata terbaru, yang dipicu serangan gerilyawan Rohingya ke pos penjagaan perbatasan pada Otober 2016, adalah yang terburuk. Tentara Myanmar mengatakan, hampir 400 orang tewas dalam pertempuran yang terjadi, termasuk 370 gerilyawan Rohingya.

Khawatir Nasib Keluarga Mereka di Myanmar 

Pengungsi etnis Rohingya, Myanmar, yang sudah bertahun-tahun tinggal di Penampungan Imigrasi Kelas 1 Khusus Medan menceritakan pengalaman mereka, ketika melarikan diri dari Myanmar.

Perjuangan mereka cukup mengerikan, karena nyawa taruhannya. Mereka harus bisa melepaskan diri dari pengawasan tentara, sanggup menahan lapar, dan tahan diterjang ombak saat naik kapal menuju negara lain.

"Saya berasal dari Bushidong. Saat itu, saya harus pergi dulu ke Musidong. Nah, saat menuju ke Musidong, saya harus berjalan pada malam hari, saat para tentara tidur," ujar pengungsi yang sudah dua tahun tinggal di Indonesia, Siradil Islam, yang pernah tinggal di pengungsian Aceh.

Jika tertangkap tentara, kata Siradil, mereka akan dipukuli dan uang mereka diambil. Beberapa temannya, yang tertangkap, ada yang meninggal, karena dipukuli tentara.

Para pengungsi yang hendak keluar dari Myanmar, kata Siradil, biasanya menggunakan kapal kayu orang Thailand. Sebelum masuk ke kapal utama, para pengungsi terlebih dulu harus naik kapal kecil ke tengah laut.

Sebelum ke sampai Indonesia, para pengungsi Rohingya terlebih dahulu memasuki wilayah negara Thailand, dan wilayah negara Malaysia. Namun, dua negara tersebut tidak bersedia menerima para pengungsi.

"Pertama kali kami tiba di Thailand. Kami tidak diterima di sana. Di Malaysia juga kami ditolak. Malaysia dan Thailand memaksa kami kembali ke tengah laut. Kalau orang Thailand mau bantu dengan cara kasi makanan. Kalau Malaysia tidak," ujar Siradil.

Bahkan, kata Siradil, Malaysia lebih kejam dibanding Thailand saat menolak pengungsi masuk ke negaranya. Militer Malaysia kadang tidak segan-segan menembaki kapal para pengungsi supaya kembali ke tengah laut.

"Kapal Thailand tarik kami kembali ke tengah laut. Kalau Malaysia, tolak kami. Ada yang kapalnya ditembaki, supaya kembali ke tengah laut," ujarnya.

Siradil menambahkan, sebelum masuk wilayah Indonesia, ia berada di kapal lebih empat bulan lebih. Persediaan makanan dan minuman serba terbatas. Mereka setiap hari dijatah.

Saat di kapal, mereka selalu mengutamakan anak-anak mendapat makanan, kemudian orang dewasa. "Kami makan biskuit atau mi instan yang dijatuhkan orang-orang Thailand itu," ujarnya.

Saat ini, para pengungsi sangat khawatir dengan keluarga mereka yang masih tinggal Myanmar. Berdasar informasi yang mereka peroleh, keluarga mereka tengah diburu tentara Myanmar.

Beberapa anggota keluarga mereka ada yang sudah ditangkap dan nasibnya tidak diketahui. Rumah dan harta benda mereka dirampas dan dibakar tentara Myanmar.

"Sangat sedih mendengar cerita dari saudara di kampung (Rakhine). Rumah-rumah dibakar. Kalau keluar rumah, pasti langsung ditembak militer, mereka itu. Mereka tidak boleh keluar rumah. Mereka tidak punya makanan," ujar pengungsi, Muhamamad Masud.

Informasi tersebut mereka peroleh setelah berkomunikasi via telepon dengan saudara-suadara mereka, yang saat ini sedang menuju Bangladesh. Tindakan kejam, seperti pemerkosaan dan pembunuhan kerap dialami etnis Rohingya saat bertemu dengan anggota militer Myanmar.

"Keluarga-keluarga kami ada yang dipotong-potong. Kalau perempuan dibawa ke kamp militer, baru diperkosa. Kalau sudah bosan, perumpuan Rohingya akan dibunuh, tidak terkecuali anak-anak atau bayi. Kalau ketemu akan mereka bunuh," ujarnya.

Masud mengatakan, etnis Rohingya adalah orang Myanmar yang sudah ratusan tahun tinggal di Rakhine, Myanmar.

"Kami ini orang Myanmar. Tapi tidak diakui. Kami tidak pernah mendapat identitas dari pemerintah. Kami ini tidak bisa bersekolah di sana. Kami tidak bisa beli baju bagus di sana. Kami tidak bisa ke pasar," ujarnya.




Loading...
loading...
loading...
Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)

Populer